Haii… haii, gimana Kabarmu Sahabat
Hebat, Semoga Kamu selalu dalam
keadaan Sehat, Bersemangat, dan
Penuh cinta dan Rasa syukur yang
menjadikan Hari-harimu semakin
Hebat. AMIIIN…. ini Buat Kamu yang masih Semangat
menapaki hidup demi sebuah
pencapaian, pencapaian apapun itu,
ssst.. mari lirik kebawah dikit yuk, ada
cerita inspirasi yang menarik untuk
jadi inspirasi, semoga bermanfaat untuk hidup yang lebih Hebat lagi, Disebuah Desa terpencil, tampak dua
makhluk yang lagi mengeluh dengan
hari-hari mereka. “Duh, kok
kemaraunya gak berhenti-berhenti
yah”, keluh si kancil yang biasa
dipangggil “Kaka” ini.“Iya nih”, jawab Kuri panggilan si kura-kura dengan
lirihnya, “kalau begini terus dua tiga
hari lagi persediaan makanan kita
bakal habis.” Kaka dan Kuri memang tinggal
bersama. Mereka membuat rumah
yang cukup nyaman di dalam sebuah
gua kecil. Di sekitar gua sejatinya
banyak ditumbuhi tanaman-tanaman
yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak
beberapa minggu terakhir ini, panas
yang berkepanjangan melanda,
sehingga sedikit demi sedikit tanaman
yang ada mati kekeringan. “Coba kita bisa memancing seperti pak
Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya
kita tidak perlu pusing seperti
ini.”BRAKKKK!!!!Kaka tiba-tiba
meloncat dari kursinya hingga tidak
sengaja menjatuhkan kursi tersebut. “Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan
semangat ‘45. “huhh..Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri
yang sempat jantungan gara-gara
ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku
mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum
Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke
pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan
banyak, yang lebih dari jatah makan
perut gendutnya. Pasti bakal diberi
deh.” “Memangnya kita akan minta-minta
ikan terus ke dia? Lama-lama juga
pasti pak Beri gak akan mau memberi
ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil
membetulkan kursi yang tadi terjatuh.
Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.” “Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti
apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak.
Bicaranya keras, tapi susah dicerna
maksudnya. Mendingan minta
langsung aja. Lagipula aku malas kalau
harus belajar segala.” Kaka melangkah mendekati jendela.
Matanya berbinar-binar nakal.“Nanti
aku akan cari alasan yang berbeda
setiap harinya agar pak Beri mau
memberikan ikan kepadaku.”,
katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?” Kuri termenung. Di satu sisi, ia
membayangkan nikmatnya duduk
santai di tepi jalan setapak ke sungai
sambil menunggu pak Beri lewat
membawa hasil pancingannya. Ia
kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat
menemukan cara untuk membuat satu
dua ikan pak Beri berpindah tangan. Di sisi lain, ia tidak ingin hanya
berpangku tangan dan bergantung
kepada binatang lain. Ia juga ingin
dapat memancing ikan sendiri
sehingga tidak kebingungan apabila
suatu saat kemarau datang lagi.“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka
sambil mendorong pelan tempurung
Kuri. “Aku tidak ikutan deh”, jawab
Kuri. “Loh kok…”“Iya, aku ingin coba
memancing saja. Pasti terasa lebih
lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”. Mata Kaka tercenung. Ia menatap
tajam ke arah Kuri. Beberapa detik
kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan?
Memangnya kamu mau belajar
darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar
kalau kamu kelamaan ngobrol dengan
dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”,
lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat
berpikirnya.” Kuri tersenyum mendengar sindiran
Kaka.“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku
yakin kalau aku berusaha pasti aku
akan bisa”. Begitulah. Keesokan harinya, Kuri
mulai mengikuti dan mengamati pak
Beri yang sedang memancing. Ia
kemudian mencoba untuk membuat
tongkat pancingnya sendiri dan
menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum.
Dengan tekun ia berusaha memahami
apa maksud perkataan pak Beri
hingga akhirnya ia berhasil membuat
tongkat pancing yang kuat dan kokoh. Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka
menunggu di ujung jalan hingga pak
Beri lewat dan mengiba-iba
kepadanya untuk meminta seekor
ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik,
pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.“Lihat nih,” ujar Kaka
pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan
pemberian pak Beri. Besar bukan?
Pasti lezat jika dibumbu rujak dan
dimakan dengan sambal mangga.
Mana ikanmu?”Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.“Nih”,
katanya sambil tersenyum. “Hari ini
aku memang belum bisa membawa
ikan, tapi aku sudah bisa membuat
tongkat pancingku
sendiri.”“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.” Hari demi hari berlalu. Kuri terus
berusaha untuk belajar tehnik
memancing ikan dari pak Beri. Mulai
dari memilih umpan, mencari tempat
yang banyak ikannya, hingga cara
menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-
harinya dengan seribu satu alasan
untuk dapat menaklukkan hati pak
Beri. Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia
tidak mau lagi memberikan ikannya
kepada Kaka meskipun Kaka sudah
memohon sambil berguling-guling di
tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli
dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka
yang menangis tersedu-sedu karena
tidak mendapatkan makanan hari itu,
Kuri pun membagikan ikan hasil
tangkapannya pada Kaka. “Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata
Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha
sendiri daripada selalu bergantung
kepada orang lain. Meskipun
kelihatannya susah, jika terus
mencoba, pasti kita Bisa.”Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia
setuju dengan pendapat Kuri. “Daripada terus-menerus bergantung
kepada orang lain, lebih baik jika kita
berusaha untuk belajar dan
meningkatkan kemampuan kita agar
bisa seterusnya berdiri dan berusaha
sendiri.” Sahabat Hebatku yang Amazing, tahu
kah anda?
Mayoritas terbesar manusia di dunia
ini terombang-ambing dalam
kehidupan, tidak pernah menyadari
bahwa masa depan mereka tergantung pada diri mereka sendiri
dalam membentuknya. Golongan minoritas yang mencapai
kesuksesan besar adalah orang-orang
yang tahu apa yang mereka inginkan
dan punya rencana untuk
mewujudkan keinginan mereka. Dan
Siap melewati semua prosesnya dengan Penuh Percaya diri tanpa
tergoda oleh bisikkan-bisikkan luar
yang tidak menghebatkan. Heii…Kamu
mau pilih yang mana? hehe “Aku
sudah tahu jawabanmu” kan Kamu
HEBAT.. SETUJUU? Eitss..Sebelum Keluar, Tunggu dulu..!
beri Komentar dulu yah.. ini sangat
bermanfaat buat teman-teman yang
membaca komentarmu. Terima kasih
ya… SEMANGAAT
Hebat, Semoga Kamu selalu dalam
keadaan Sehat, Bersemangat, dan
Penuh cinta dan Rasa syukur yang
menjadikan Hari-harimu semakin
Hebat. AMIIIN…. ini Buat Kamu yang masih Semangat
menapaki hidup demi sebuah
pencapaian, pencapaian apapun itu,
ssst.. mari lirik kebawah dikit yuk, ada
cerita inspirasi yang menarik untuk
jadi inspirasi, semoga bermanfaat untuk hidup yang lebih Hebat lagi, Disebuah Desa terpencil, tampak dua
makhluk yang lagi mengeluh dengan
hari-hari mereka. “Duh, kok
kemaraunya gak berhenti-berhenti
yah”, keluh si kancil yang biasa
dipangggil “Kaka” ini.“Iya nih”, jawab Kuri panggilan si kura-kura dengan
lirihnya, “kalau begini terus dua tiga
hari lagi persediaan makanan kita
bakal habis.” Kaka dan Kuri memang tinggal
bersama. Mereka membuat rumah
yang cukup nyaman di dalam sebuah
gua kecil. Di sekitar gua sejatinya
banyak ditumbuhi tanaman-tanaman
yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak
beberapa minggu terakhir ini, panas
yang berkepanjangan melanda,
sehingga sedikit demi sedikit tanaman
yang ada mati kekeringan. “Coba kita bisa memancing seperti pak
Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya
kita tidak perlu pusing seperti
ini.”BRAKKKK!!!!Kaka tiba-tiba
meloncat dari kursinya hingga tidak
sengaja menjatuhkan kursi tersebut. “Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan
semangat ‘45. “huhh..Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri
yang sempat jantungan gara-gara
ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku
mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum
Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke
pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan
banyak, yang lebih dari jatah makan
perut gendutnya. Pasti bakal diberi
deh.” “Memangnya kita akan minta-minta
ikan terus ke dia? Lama-lama juga
pasti pak Beri gak akan mau memberi
ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil
membetulkan kursi yang tadi terjatuh.
Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.” “Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti
apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak.
Bicaranya keras, tapi susah dicerna
maksudnya. Mendingan minta
langsung aja. Lagipula aku malas kalau
harus belajar segala.” Kaka melangkah mendekati jendela.
Matanya berbinar-binar nakal.“Nanti
aku akan cari alasan yang berbeda
setiap harinya agar pak Beri mau
memberikan ikan kepadaku.”,
katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?” Kuri termenung. Di satu sisi, ia
membayangkan nikmatnya duduk
santai di tepi jalan setapak ke sungai
sambil menunggu pak Beri lewat
membawa hasil pancingannya. Ia
kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat
menemukan cara untuk membuat satu
dua ikan pak Beri berpindah tangan. Di sisi lain, ia tidak ingin hanya
berpangku tangan dan bergantung
kepada binatang lain. Ia juga ingin
dapat memancing ikan sendiri
sehingga tidak kebingungan apabila
suatu saat kemarau datang lagi.“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka
sambil mendorong pelan tempurung
Kuri. “Aku tidak ikutan deh”, jawab
Kuri. “Loh kok…”“Iya, aku ingin coba
memancing saja. Pasti terasa lebih
lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”. Mata Kaka tercenung. Ia menatap
tajam ke arah Kuri. Beberapa detik
kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan?
Memangnya kamu mau belajar
darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar
kalau kamu kelamaan ngobrol dengan
dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”,
lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat
berpikirnya.” Kuri tersenyum mendengar sindiran
Kaka.“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku
yakin kalau aku berusaha pasti aku
akan bisa”. Begitulah. Keesokan harinya, Kuri
mulai mengikuti dan mengamati pak
Beri yang sedang memancing. Ia
kemudian mencoba untuk membuat
tongkat pancingnya sendiri dan
menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum.
Dengan tekun ia berusaha memahami
apa maksud perkataan pak Beri
hingga akhirnya ia berhasil membuat
tongkat pancing yang kuat dan kokoh. Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka
menunggu di ujung jalan hingga pak
Beri lewat dan mengiba-iba
kepadanya untuk meminta seekor
ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik,
pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.“Lihat nih,” ujar Kaka
pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan
pemberian pak Beri. Besar bukan?
Pasti lezat jika dibumbu rujak dan
dimakan dengan sambal mangga.
Mana ikanmu?”Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.“Nih”,
katanya sambil tersenyum. “Hari ini
aku memang belum bisa membawa
ikan, tapi aku sudah bisa membuat
tongkat pancingku
sendiri.”“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.” Hari demi hari berlalu. Kuri terus
berusaha untuk belajar tehnik
memancing ikan dari pak Beri. Mulai
dari memilih umpan, mencari tempat
yang banyak ikannya, hingga cara
menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-
harinya dengan seribu satu alasan
untuk dapat menaklukkan hati pak
Beri. Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia
tidak mau lagi memberikan ikannya
kepada Kaka meskipun Kaka sudah
memohon sambil berguling-guling di
tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli
dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka
yang menangis tersedu-sedu karena
tidak mendapatkan makanan hari itu,
Kuri pun membagikan ikan hasil
tangkapannya pada Kaka. “Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata
Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha
sendiri daripada selalu bergantung
kepada orang lain. Meskipun
kelihatannya susah, jika terus
mencoba, pasti kita Bisa.”Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia
setuju dengan pendapat Kuri. “Daripada terus-menerus bergantung
kepada orang lain, lebih baik jika kita
berusaha untuk belajar dan
meningkatkan kemampuan kita agar
bisa seterusnya berdiri dan berusaha
sendiri.” Sahabat Hebatku yang Amazing, tahu
kah anda?
Mayoritas terbesar manusia di dunia
ini terombang-ambing dalam
kehidupan, tidak pernah menyadari
bahwa masa depan mereka tergantung pada diri mereka sendiri
dalam membentuknya. Golongan minoritas yang mencapai
kesuksesan besar adalah orang-orang
yang tahu apa yang mereka inginkan
dan punya rencana untuk
mewujudkan keinginan mereka. Dan
Siap melewati semua prosesnya dengan Penuh Percaya diri tanpa
tergoda oleh bisikkan-bisikkan luar
yang tidak menghebatkan. Heii…Kamu
mau pilih yang mana? hehe “Aku
sudah tahu jawabanmu” kan Kamu
HEBAT.. SETUJUU? Eitss..Sebelum Keluar, Tunggu dulu..!
beri Komentar dulu yah.. ini sangat
bermanfaat buat teman-teman yang
membaca komentarmu. Terima kasih
ya… SEMANGAAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar